Cacing Darah Vs Cacing Sutera

Cacing sutra (tubifex) dan cacing darah tergolong pakan alami yang populer baik di kalangan pecinta ikan hias maupun kalangan pembenih ikan. Sebagian menyebut cacing sutra sebagai cacing darah, namun di berbagai daerah keduanya sebenarnya mengacu pada dua makhluk yang berbeda. Cacing sutra berukuran lebih kecil namun lebih panjang dari cacing darah. Cacing sutra hidup lebih bergerombol dibandingkan cacing darah yang tidak begitu bergerombol. Cacing darah sendiri berukuran tubuh lebih pendek dan beruas dengan tubuh berwarna merah menyala, lebih merah dari cacing sutra. Gerakan cacing darah juga lebih atraktif dibandingkan gerakan cacing sutra.

Termasuk Serangga
Cacing darah (bloodworm) meskipun disebut sebagai cacing, namun sebenarnyalah ia termasuk kelompok serangga. Cacing darah merupakan bentuk larva dari satu jenis nyamuk. Sepintas bentuk kepala dan taringnya memang mirip jentik-jentik nyamuk biasa dengan ukuran yang lebih besar. Tidak seperti nyamuk malaria atau nyamuk demam berdarah, saat dewasa nanti cacing darah akan berubah menjadi satu jenis nyamuk yang tidak menggigit manusia.

Di mana tempat mudah untuk menemukan cacing darah? Biasanya jika anda membeli cacing sutra yang berasal dari peternakan di lahan terbuka, selain cacing sutra, akan ada juga di dalamnya cacing darah dengan jumlah yang kadang banyak kadang tidak terlalu banyak. Dengan ukurannya yang relatif lebih besar, cacing darah kurang cocok dijadikan pakan hidup untuk larva lele umur 4 atau 5 hari. Cacing darah sendiri lebih banyak digunakan untuk pakan beberapa jenis ikan hias.

cacing-darah
Cacing darah, berbeda dari cacing sutra

Kabar Baik dan Kabar Buruk
Selain kutu air, keberadaan cacing darah pada suatu area perairan terbuka seringkali dijadikan patokan kualitas perairan tersebut. Perairan  yang terdapat di dalamnya cacing darah ini menandakan lingkungan yang tidak tercemar.

Sementara itu bagi peternak cacing sutra di lahan terbuka, peningkatan kehadiran cacing darah dalam jumlah yang signifikan merupakan hal yang tidak begitu bagus. Adanya cacing darah dalam jumlah yang banyak di lahan cacing sutra seringkali diikuti dengan proses penurunan produksi cacing sutra yang dihasilkan peternak. Entah adakah kaitan cacing darah ini memang mengganggu perkembangan cacing sutra di lahan peternakan atau hanya sebagai indikator saja.

koloni-cacing-sutera
Cacing sutra hidup bergerombol

Terkadang untuk menghilangkan keberadaan cacing darah di lahan ternak cacing sutra ini, peternak melakukan langkah pengeringan lahan. Langkah ini tentu saja dengan konsekuensi liburnya proses produksi cacing sutra di lahan tersebut. Jika melihat dari sumber asal-usul cacing darah yang berasal dari telur satu jenis nyamuk, langkah di atas bisa jadi kurang tepat. Induk cacing darah ini dengan mudah akan datang kembali ke lahan yang sama, kecuali dilakukan langkah penutupan akses ke lahan peternakan hingga tidak bisa dimasuki nyamuk.

Efek samping dari pengeringan pada lahan ini sebenarnyalah memang positif. Selain proses sterilisasi ulang pada lahan, juga terjadi peremajaan pada media tumbuh, pengolahan tanah, dan hasilnya seringkali produksi cacing sutra akhirnya dapat meningkat lagi pada musim tanam berikutnya.


2 Comments on Cacing Darah Vs Cacing Sutera

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*