Daun Ijo

Ikuti

Praktek Ternak Cacing Sutra dengan Media Kompos dan Pupuk Kandang

oleh daunijo

Bagikan

Harga cacing sutra yang lumayan tinggi tidak begitu terasa saat benih ikan lele yang dipelihara hanya sedikit. Namun saat benih ikan yang dipelihara cukup banyak, kebutuhan dari biaya pembelian cacing sutra akan cukup terasa. Dari awal pemberian cacing sutra hingga masuk masa pergantian pelet PF 500 atau PF 1000, cacing sutra yang dikonsumsi semua benih dari satu indukan saja sudah hampir setara dengan harga setengah karung pakan lele dewasa. Sisa cacing sutra satu atau dua gelas yang masih ada akhirnya dicoba untuk dipelihara saja, siapa tahu dari bibit ini dapat beranak pinak dan bertambah banyak.

Kolam Kayu
Kolam kecil untuk pemeliharaan cacing sutra akhirnya terbuat juga. Rangka kolam terbuat dari papan kayu bekas pengecoran bangunan dengan panjang 2 m lebar cukup 50 cm dipaku membentuk kotak persegipanjang tanpa alas. Ketinggian kolam setinggi lebar papan. Agar lebih awet caranya papan kayu dibungkus dengan plastik juga agar tidak mudah lapuk dan dimakan rayap.

Untuk dapat menampung lumpur dan aliran air dengan baik, bagian dalam kolam cacing dilapisi dengan plastik putih lembaran. Jika ada karpet plastik tebal atau terpal tentu lebih baik. Karena masih dalam taraf mencoba terpalnya disimpan dulu saja. Sisa karung bekas wadah pakan lele dijadikan alas agar lembaran plastik tidak bocor dan bertahan lebih lama, jangan lupa bagian alas tanah harus diratakan dan dibersihkan dari benda bahan tajam.

Media
Rencana awal hendak digunakan media limbah air dan lumpur dari kolam lele. Namun dari kolam terpal yang ada ternyata tidak begitu banyak sisa limbah padat atau lumpur yang dihasilkan, tidak lebih dari satu ember. Agar endapan media tidak terlalu tipis, setengah karung sisa kompos tanaman dan satu karung kecik kotoran ayam kering ditambahkan ke dalam kolam. Tidak ada lumpur yang berasal dari tanah yang ditambahkan ke dalam bahan media.

kolam-plastik-untuk-cacing-sutra

Langkah berikutnya adalah fermentasi bahan atau media hidup cacing sutra. Bahan-bahan ini kemudian dicampurkan dengan air dan diaduk-aduk hingga rata di dalam kolam. Untuk cairan fermentasi digunakan saja persediaan em4 untuk ikan lele yang telah diaktifkan dengan tetes tebu. Dua atau tiga gayung cairan ini ikut dimasukkan ke dalam bahan dan diaduk ulang hingga rata. Kolam ditutup dengan plastik selama beberapa hari agar bahan terfermentasi dengan baik.

Saat proses fermentasi ini dihasilkan banyak sekali busa atau buih di permukaaan air, pertanda proses fermentasi berlangsung dengan baik. Bau harum khas aroma tape juga keluar dari bahan-bahan ini. Sehari sekali bahan diaduk ulang agar proses dapat merata ke semua bahan. Semakin hari busa atau buih yang muncul di permukaan air semakin sedikit.

Tebar Bibit Cacing Sutra
Seminggu lepas proses persiapan media berlangsung, dicoba untuk menebarkan benih cacing. Air lama dibuang dulu dan diganti dengan air yang baru, kira-kira 3-4 cm dari permukaan lumpur kolam. Airnya perlu diganti karena saat pertama dicoba masuk satu sendok cacing sutra, dengan air dialirkan kecil ternyata cacing-cacing pada mati.

bibit-ternak-cacing-sutra

Dengan air yang baru, dicoba lagi satu sendok bibit cacing sutra. Esok hari cacing-cacing masih bertahan hidup. Satu gelas aqua penuh cacing sutrapun ditebarkan merata ke dalam kolam. Untuk menjaga air selalu mengalir di kolam cacing,  idealnya perlu disiapkan satu buah pompa air. Karena belum tersedia, sementara gunakan dulu air dari selang aerator kecil yang diambilkan dari air kolam benih lele.

Hidup Juga
Hingga 5 hari  satu minggu 60 hari setelah ditebar, biang cacing sutra terlihat masih hidup di dalam kolam. Cacing sutra yang tadinya lebih banyak bergerombol mulai terlihat menyebar di area kolam. Terlihat mereka lebih suka berada di bagian kolam yang lumpurnya lebih tebal dengan air yang lebih tipis di atasnya. Di bagian tengah yang airnya lebih dalam dengan lumpur lebih tipis, tidak terlihat banyak keberadaan cacing.

ternak-cacing-sutra-media-kompos

Untuk media lumpur yang tipis baiknya di atas kolam diberikan pelindung berupa paranet atau plastik agar matahari tidak terlalu terik. Pada prakteknya, budidaya ternak cacing sutra di lahan yang luas dan berlumpur dalam seperti di sawah tidak diterapkan penutup ini.

Saatnya menunggu beberapa minggu ke depan, adakah cacing-cacing sutra ini akan bertambah banyak atau malah menyusut menjadi lebih sedikit atau malah mati semua. Sayangnya selain cacing sutra, jentik-jentik nyamuk banyak muncul di dalam kolam cacing sutera meskipun air dalam kondisi yang mengalir.

Pompa yang rusak
Karena pompa untuk mengalirkan air menjadi rusak, akhirnya cacing sutra dipelihara dalam air diam saja atau tanpa aliran air. Tanpa air yang mengalir terus menerus, terlihat cacing tetap dapat hidup dan berkembang biak. Aliran air hanya diberikan kira-kira seminggu sekali melalui selang air untuk memberikan kesegaran kolam sambil menghilangkan jentik nyamuk.

Bagikan

Terkait

Latest